Sabtu, 05 Mei 2012

PROFESOR MATEMATIKA ITU TAKJUB DENGAN AL-QUR'AN


Jeffrey Lang: Takjub dengan Alquran, Profesor Matematika itu Memeluk Islam
Jeffrey Lang

Jeffrey Lang: Takjub dengan Alquran, Profesor Matematika itu Memeluk Islam

Sikap kritisnya terhadap logika keberadaan Tuhan membawanyanya pada atheisme di usia remaja. Namun, kekalahan logikanya oleh Alquran sepuluh tahun kemudian membimbing profesor Matematika ini pada Islam, agama yang pernah hadir dalam mimpinya.


                                                                          ***

"Ayah, apakah surga itu benar-benar ada?" Jeffrey Lang kecil bertanya kepada ayahnya saat berjalan-jalan bersama anjing peliharaannya di pantai, sekitar 50 tahun lalu.

Kini, Jeffrey adalah seorang profesor Matematika yang memperoleh gelar master dan doktor dari Purdue University, West Lafayette, Indiana pada 1981. Pertanyaan yang pernah dilontarkannya saat masih kanak-kanak itu kini terjawab sudah. Dosen dan peneliti di Universitas Kansas Amerika Serikat ini menemukannya dalam Islam, 32 tahun lalu.

Lahir pada 30 Januari 1954 di Bridgeport, Connecticut, Jeffrey dibesarkan di tengah keluarga dan lingkungan Katolik Roma. Selama 18 tahun pertama dalam hidupnya, ia belajar di sekolah-sekolah Katolik, di mana ia bertemu pendeta dan teman-teman dari latar belakang agama yang sama.

Hidup di lingkungan Katolik tak begitu saja menjadikan Jeffrey seorang pemeluk agama yang taat. Sikap kritis yang dimilikinya sejak kecil justru menjauhkannya dari agama keluarganya itu. Diskusi-diskusi yang dibangunnya dengan orang tua, pendeta sekolah, dan teman-teman sekolahnya tak pernah berhasil menjawab pertanyaannya tentang keberadaan Tuhan.

“Pada masa itu, aku sudah mulai banyak bertanya tentang nilai-nilai kehidupan, baik secara politik, sosial, maupun keagamaan. Aku bahkan sering bertengkar dengan banyak kalangan untuk memperdebatkan hal itu, termasuk dengan pemuka gereja Katolik,’’ tulisnya dalam salah satu buku tentang perjalanannya menemukan Islam.

Menjelang kelulusannya dari sekolah Notre Dam Boys High, saat usianya 18 tahun, Jeffrey merasa kebuntuan logika tentang Tuhan hanya menyisakan satu pilihan baginya; menjadi atheis. Sang ayah yang marah dengan pilihan Jeffrey berkata, "Tuhan akan membuatmu tertunduk, Jeffrey."

Ucapan ayahnya benar-benar terjadi. Jeffrey tertunduk dan bersimpuh di hadapan Tuhan pada suatu malam, dalam sebuah mimpi.

Dalam mimpinya, Jeffrey berada di dalam sebuah ruangan kecil yang tenang dan hening. “Tak ada perabot apapun, tidak juga hiasan apapun di dindingnya yang berwarna putih keabuan. Hanya ada karpet bermotif dengan warna dominan merah dan putih menutupi lantai ruangan,” katanya.

Jeffrey menambahkan, dirinya tak sendiri di dalam ruangan itu. Ia dan beberapa orang lainnya berada dalam beberapa barisan. “Aku ada di barisan ketiga. Tak ada perempuan di sana, hanya laki-laki. Kami semua duduk di atas tumit-tumit kami, menghadap sebuah jendela kecil yang membawa cahaya yang terang benderang ke dalam ruangan.”

Jeffrey merasa asing karena tak mengenal siapapun, namun melakukan gerakan ruku’ dan sujud bersama dan seirama. “Tenang sekali, seolah seluruh suara dimatikan,” katanya. Masih dalam mimpinya, di tengah keheningan itu, Jeffrey tersadar bahwa mereka dipimpin seseorang yang berdiri paling depan di bagian tengah ruangan. “Ia berada di sisi kiriku, tepat di tengah ruangan, terpisah dari barisan.”

“Aku hanya sempat melihatnya sekilas, pria itu memakai jubah panjang putih. Di kepalanya terdapat sebuah kain putih dengan motif merah. Saat itulah aku terbangun dari mimpiku.”

Mimpi itu berulang kali menghampiri Jeffrey di sepanjang 10 tahun kehidupan tanpa Tuhan yang dijalaninya. Karena sama sekali tak mengerti, Jeffrey mengabaikannya. Hanya saja, satu hal yang tak dilupakan Jeffrey, “Aku selalu merasa nyaman setiap terbangun dari mimpi aneh itu.”

                                                                       ***

Sepuluh tahun kemudian, di hari pertamanya mengajar di University of San Fransisco, Jeffrey bertemu seorang mahasiswa Muslim di kelas Matematika yang diampunya. Dalam rentang waktu yang cukup singkat, Jeffrey telah menjalin pertemanan dengan mahasiswa Muslim itu, juga keluarganya. Keduanya sering berbincang dan berdiskusi, namun tak pernah membahas soal agama.

Hingga pada suatu waktu, salah seorang keluarga mahasiswa Muslim itu memberi Jeffrey sebuah salinan Alquran. Karena tak sedang mencari agama, dan sebagai seorang ateis, Jeffrey membacanya dengan berbagai prasangka di otaknya.

Jeffrey pun segera terlibat dalam apa yang disebutnya pergulatan. “Alquran menyerangku secara langsung dan personal, mengkritik, mempermalukan, dan menantangku. Sejak awal, kitab itu menorehkan garis peperangan, dan aku berada di wilayah yang berseberangan,” katanya.

“Anda tidak bisa hanya membaca Alquran. Tidak akan bisa jika Anda melakukannya dengan serius. Pilihannya (ketika Anda membaca Alquran) adalah, pertama, Anda telah menyerah padanya atau, kedua, Anda menantangnya.”

Jeffrey kewalahan. Ia kebingungan. “Aku menderita kekalahan parah. Karena saat membacanya, sangat jelas kurasakan bahwa Penulisnya (Allah SWT) mengetahui tentangku lebih baik daripada aku mengenal diriku sendiri,” ujarnya takjub.

Ketakjuban itu bertambah. Ketika Jeffrey memunculkan pertanyaan dan sanggahan baru dalam otaknya setiap selesai membaca Alquran hingga bagian tertentu, ia segera memperoleh jawabannya saat meneruskan bacaannya. “Seolah Penulis kitab itu membaca pikiranku.”

“Alquran selalu berada jauh di depan pemikiranku. Ia menghapus rintangan yang telah kubangun bertahun-tahun lalu dan menjawab semua pertanyaanku,” katanya. Semakin keras ia mencoba melawan dengan sanggahan dan pertanyaan, semakin jelas ia memperoleh kekalahan dalam pergulatan itu. “Aku dituntun ke sebuah sudut di mana hanya ada satu pilihan.”

                                                                        ***

Tahun 1982, Jeffrey mendapati sejumlah kecil mahasiswa Muslim memanfaatkan sebuah ruangan kecil di basement gereja untuk shalat. Ia memberanikan diri mengunjungi tempat itu pada suatu hari. Setelah beberapa jam di ruangan kecil itu, Jeffrey keluar dengan sebuah identitas baru; Muslim.

Ia telah bersyahadat di sana, beberapa saat menjelang tengah hari. Memasuki waktu Dzuhur ia berbaur dan berdiri dalam barisan bersama para mahasiswa, dipimpin seorang bernama Ghassan. Jeffrey menunaikan shalat pertamanya.

Jeffrey terlarut dalam setiap gerakan shalat yang diikutinya. Saat menyelesaikan gerakan sujud dan melakukan duduk iftirasy, Jeffrey melihat ke arah depan dan melihat Ghassan. “Ia berada di sisi kiriku, di tengah-tengah di depan sana, di bawah jendela yang menghujani ruangan dengan cahaya. Ia terpisah dari barisan, mengenakan jubah putih, dengan selendang putih bermotif merah di kepalanya.”

“Mimpi itu!,” teriaknya dalam hati. Setelah berhasil meyakinkan dirinya bahwa ia tak sedang bermimpi, Jeffrey disergap rasa hangat yang mendamaikan hatinya.

Ia berlutut dengan kening menyentuh lantai. Bagian tertinggi raganya yang penuh dengan berbagai pengetahuan dan intelektualitas berada di titik terendah, dalam sebuah penyerahan total kepada Allah SWT. Pipi Jeffrey basah oleh air mata.


Menjadi Pribadi yang Baik Berkat Shalat

Atas seluruh rangkaian perjalanannya, Jeffrey Lang merasa Tuhan sendiri yang menuntunnya pada Islam. Ia percaya Tuhan berada dekat dengannya dan selalu mengarahkan hidupnya. “Aku tahu Ia menciptakan lingkungan dan kesempatan untuk memilih, namun Ia juga tetap meninggalkan pilihan yang krusial.

Setelah berislam, profesor Matematika University of Kansas itu menulis tiga buku yang banyak dibaca oleh Muslim Amerika Serikat. Buku-buku itu, Struggling to Surrender (1994); Even Angels Ask (1997); dan Losing My Religion: A Call for Help (2004), berisi pengalaman dan pemikirannya tentang Islam. Selain itu, Jeffrey juga kerap menjadi pembicara dalam konferensi Islam.

Menikahi seorang wanita Arab, Jeffrey dikaruniai tiga orang anak—Jameela, Sarah, dan Fattin—yang mewarisi kekritisannya. “Kini aku harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sama seperti yang kulontarkan pada ayah dulu,” katanya.

Suatu hari, seperti ditulisnya dalam salah satu bukunya, usai shalat Ashar bersama putri sulungnya yang berusia delapan tahun, Jeffrey disodori sebuah pertanyaan yang mengejutkannya, “Ayah, mengapa kita shalat?”

“Karena Tuhan menginginkannya,” jawab Jeffrey, yang disambut Jameela dengan satu pertanyaan lain, “Tapi, apa manfaat dari shalat?”

Jeffrey menjawabnya dengan uraian yang ditulisnya secara lengkap dalam bukunya Even Angels Ask. Ia berkata, “Tuhan adalah sumber dari segala bentuk kasih sayang, kebaikan, dan kearifan yang kita alami dan rasakan, seperti matahari yang menjadi sumber cahaya pada siang hari,” ujar Jeffrey mengawali penjelasannya.

“Kasih sayang yang ayah rasakan padamu, adik-adikmu, dan ibumu adalah pemberian Tuhan. Kita tahu Tuhan itu baik dan murah hati dengan semua yang diberikan-Nya pada kita. Jika kita shalat, kita tidak hanya tahu namun juga merasakan kasih sayang, kebaikan, dan kemurahan Tuhan itu, dengan cara yang istimewa.”

“Apakah shalat membuatmu menjadi ayah yang baik?” tanya putrinya lagi.

“Ayah harap begitu, karena ketika kamu mendapat sentuhan kasih sayang dan kebaikan Tuhan lewat shalat, itu terasa sangat indah dan kuat hingga kamu merasa perlu membaginya pada orang-orang di sekitarmu, terutama keluargamu. Ketika ayah pulang kerja dan merasa sangat lelah, ayah ingin menyendiri untuk beristirahat.”

“Ketika ayah merasakan kasih sayang Tuhan dalam shalat, ayah akan segera teringat bahwa kalian adalah pemberian istimewa Tuhan bagi ayah, bahwa ayah mendapatkan kebahagiaan dengan menjadi ayah kalian dan suami ibu kalian. Ayah yakin ayah tidak akan menjadi ayah yang baik tanpa shalat,” Jeffrey mengakhiri penjelasannya yang disambut pelukan Jameelah. “Aku sayang ayah,” katanya.


http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/12/04/30/m39tyw-jeffrey-lang-profesor-matematika-itu-menjadi-pribadi-yang-baik-berkat-shalat
Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Devi Anggraini Oktavika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar